Suatu Malam Bersama Teman
Sudah malam. Terlalu larut untuk dikatakan malam. Anak-anak kecil sudah tertidur pulas di rumah masing-masing. Ranjang-ranjang bergoyang, didesak sepasang pengantin anyar. Mereka bermalam di dalam selimut, di atas kasur yang menjadi panas.Para tetangga sedikit gusar mendengar decitan ranjang di sebelah rumahnya.
Sementara aktivitas manusia mulai tidak aktif, saya masih di luar bersama seorang kawan, baru saja melalui parti rumahan yang dibuat bersama teman-teman. Malam terlalu damai untuk melanjutkan parti. Lagipula teman-teman sudah tak sanggup melanjutkannya. Hanya tersisa dampak parti: kelelahan dan ingin tidur. Ternyata bukan saja bekerja, senang-senang pun bisa membuat lelah. Sebagian dari mereka sudah tidur, sebagian lagi mabuk sampai akhirnya tidur. Lalu, saya sadari tinggal saya dan seorang kawan ini, yang juga duduk di bangku yang sejenis, tapi letaknya di sebelah saya.
Saya tak turut mabuk, dan memang belum pernah benar-benar mabuk lagi setelah kejadian tiga tahun silam, saat saya di rumah si Agi, di acara ulang tahunnya. Saya mabuk daging dan nasi kebuli. Ah, betapa kampungan sekali saya waktu itu, melahap banyak hidangan acara ulang tahun. Tapi malam ini, saya seratus persen sadar. Oke, ralat, delapan puluh sembilan persen sadar. Sebelas persen sisanya faktor ngantuk juga.
Ingin sekali rasanya ngobrol secara berkualitas bersama teman di sebelah saya ini. Tapi kami berdua telah memaklum bahwa malam ini takkan ada obrolan keren, cerdas, atau apa pun itu. Yang ada hanya obrolan tak berarah, sampai akhirnya bermuara pada percakapan yang tak jelas juga.
"Aku mah ngebebasin suami aku buat kumpul bareng temen-temennya, minum-minum," kata si teman. Dia adalah ibu muda, umurnya semuran saya, dan sedang mengandung anak pertamanya.
"Hmm... Itu bagus, suamimu kan berjiwa bebas," jawab saya
"Iya, tapi aku juga suka kesel," ucapnya dengan alis menukik.
"Kesel gimana?"
"Aku kan udah pesen ke suamiku. Aku bilang gini, 'Kamu boleh aja minum, tapi jangan main cewek.' Gitu."
"Wah, terus apa kata dia?"
"Pokoknya aku larang suamiku supaya jangan deket cewek-cewek nakal. Tapi akhirnya dia mah suka bandel."
"Nah, kalo aku jadi suami kamu, dan dapet restu minum-minum dari kamu. Yang aku lakuin pertama langung pergi minum-minum. Abis itu pulangnya bawa cewek, kuanggap dia selingkuhanku."
"Kamu sama aja dong,"
"Iya lah. Terus aku bilang aja, "Ini kan efek minum-minum."
"Ih, jahat."
"Kalo suamimu jangan selingkuh, berarti suamimu jangan minum-minum juga."
Habislah percakapan kami setelah dia mengangguk sambil memasang wajah nggak ngerti. Terus dia beranjak untuk mengumpulkan gelas-gelas bekas minum-minum, wadah bekas camilan, dan botol-botol alkohol yang sudah tak berisi.
Sementara aktivitas manusia mulai tidak aktif, saya masih di luar bersama seorang kawan, baru saja melalui parti rumahan yang dibuat bersama teman-teman. Malam terlalu damai untuk melanjutkan parti. Lagipula teman-teman sudah tak sanggup melanjutkannya. Hanya tersisa dampak parti: kelelahan dan ingin tidur. Ternyata bukan saja bekerja, senang-senang pun bisa membuat lelah. Sebagian dari mereka sudah tidur, sebagian lagi mabuk sampai akhirnya tidur. Lalu, saya sadari tinggal saya dan seorang kawan ini, yang juga duduk di bangku yang sejenis, tapi letaknya di sebelah saya.
Saya tak turut mabuk, dan memang belum pernah benar-benar mabuk lagi setelah kejadian tiga tahun silam, saat saya di rumah si Agi, di acara ulang tahunnya. Saya mabuk daging dan nasi kebuli. Ah, betapa kampungan sekali saya waktu itu, melahap banyak hidangan acara ulang tahun. Tapi malam ini, saya seratus persen sadar. Oke, ralat, delapan puluh sembilan persen sadar. Sebelas persen sisanya faktor ngantuk juga.
Ingin sekali rasanya ngobrol secara berkualitas bersama teman di sebelah saya ini. Tapi kami berdua telah memaklum bahwa malam ini takkan ada obrolan keren, cerdas, atau apa pun itu. Yang ada hanya obrolan tak berarah, sampai akhirnya bermuara pada percakapan yang tak jelas juga.
"Aku mah ngebebasin suami aku buat kumpul bareng temen-temennya, minum-minum," kata si teman. Dia adalah ibu muda, umurnya semuran saya, dan sedang mengandung anak pertamanya.
"Hmm... Itu bagus, suamimu kan berjiwa bebas," jawab saya
"Iya, tapi aku juga suka kesel," ucapnya dengan alis menukik.
"Kesel gimana?"
"Aku kan udah pesen ke suamiku. Aku bilang gini, 'Kamu boleh aja minum, tapi jangan main cewek.' Gitu."
"Wah, terus apa kata dia?"
"Pokoknya aku larang suamiku supaya jangan deket cewek-cewek nakal. Tapi akhirnya dia mah suka bandel."
"Nah, kalo aku jadi suami kamu, dan dapet restu minum-minum dari kamu. Yang aku lakuin pertama langung pergi minum-minum. Abis itu pulangnya bawa cewek, kuanggap dia selingkuhanku."
"Kamu sama aja dong,"
"Iya lah. Terus aku bilang aja, "Ini kan efek minum-minum."
"Ih, jahat."
"Kalo suamimu jangan selingkuh, berarti suamimu jangan minum-minum juga."
Habislah percakapan kami setelah dia mengangguk sambil memasang wajah nggak ngerti. Terus dia beranjak untuk mengumpulkan gelas-gelas bekas minum-minum, wadah bekas camilan, dan botol-botol alkohol yang sudah tak berisi.
Comments
Post a Comment